Sunday, November 9, 2014

Menunggu adalah salah satu bentuk kesetiaan

Beberapa hari yg lalu nonton talkshow yg membahas salah satu film Indonesia. Lupa sih apa judul filmnya hehe.. Tp yg pasti quote dari salah satu presenter nya masih kebayang sampai sekarang : " Menunggu adalah salah satu bentuk kesetiaan".

Saya kaget. Di jaman yg mengandalkan logika ini, bisa dibilang memang menunggu adalah bentuk kesetiaan, yg paling tinggi malah.
Di saat semua orang dgn mudahnya berfikir untuk meninggalkan atau segera mengakhiri masalah, beberapa orang tetap bertahan untuk menunggu. Walaupun tidak tahu kapan akan datang. Walaupun tidak tahu apa yg mungkin terjadi.
Hanya menunggu saja.
Walaupun bullshit jika waktu selalu menyelesaikan masalah. Walaupun semua orang di luar sana memandangnya bodoh karena menunggu. But she still waiting..
Karena apa? Karena keyakinan.
Keyakinan kalau dengan menunggu dia akan mempelajari luka yang tidak bisa dirasakan orang yg terburu-buru.
Keyakinan jika di akhir menunggu walaupun jalan buntu yg terlihat pasti ada rerumputan hijau yg sempat dilewati.
Anggap saja menunggu sama seperti saat kita bersekolah.
Kita tidak tahu akan menjadi apa, bertemu siapa, kapan berhenti. Yg penting tetap jalan.

Anggap saja menunggu seperti berjalan pelan. Berjalan terus menerus hingga kelelahan dan berhenti. Biarlah jika akhirnya bukan garis finish yg kita capai. Setidaknya ada kerikil kerikil yg berhasil dilewati. Setidaknya kita bisa membuktikan seberapa jauh kita bisa berjalan.


Sunday, April 20, 2014

Wanita Harus Kuat

Pada posting kali ini, saya akan menjabarkan hal yang sangat mainstream dan yang agak keluar dari mainstream hehe..

Yang mainstream di tanggal 21 April 2014 adalah saya mau bilang :

 Selamat Hari Kartini pada wanita-wanita Indonesia masa kini

mainstream pasti karena pada tanggal 21 April memang hampir semua orang mengucapkan hal tersebut, semua status BBM orang juga mengatakan hal yang sama dan postingan-postingan di Path akan terbanjiri gambar-gambar yang bermakna ucapan Selamat Hari Kartini.

Sekali lagi mainstream. Tapi saya tidak pernah setuju dengan pendapat bahwa mainstream selalu buruk. Tidak. Menyayangi orang tua kita adalah mainstream, tapi ya memang harus begitu justru kalau ga mainstream dosa. Mengunyah makanan itu mainstream , tapi justru kalau mau gag mainstream bisa berakibat pada peradangan akut kerongkongan hehe..coba bayangkan Anda makan sate kambing tapi tidak dikunyah dulu bisa bisa nyangkut bukk :p

Kembali lagi ke pokok pembahasan. Mainstream tidak selalu buruk. Menurut saya bahkan harus ada ucapan selamat di saat hari Kartini. Alasannya dua, untuk menghargai perjuangan Beliau dan memotivasi wanita-wanita lainnya.

Saya baru mengetahui bahwa Ibu Kartini meninggal di usia yang cukup muda, 25 tahun, dan itu pun saat Beliau melahirkan anak semata wayangnya. Luar biasa. Sepanjang kehidupan beliau selalu berjuang demi kaumnya, di penghujung maut pun beliau masih harus berjuang demi anaknya. Bagian mana dari Ibu Kartini yang tidak luar biasa menginspirasi?

Satu hal yang dapat saya tarik dari perjuangan-perjuangan yang telah Ibu Kartini lakukan : Keberanian. Iya keberanian.

Dan ini adalah hal yang agak keluar dari mainstream yang akan saya utarakan : Wanita wajib punya keberanian.

Bukankan itu mainstream ? bagi beberapa orang ternyata menganggap hal itu tabu. Di belahan dunia lainnya di sana, wanita masih belum berani berpendapat kepada suaminya, masih ada wanita yang menerima dirinya dibilang "tumbal" untuk upacara adat sukunya, masih banyak perempuan yang bermanja-manja pada keadaan dan seolah dia menyalahkan segala hal di luar dirinya atas penderitaannya sekarang. Beberapa alasan yang menghalangi keberanian wanita adalah perasaan malu, takut dianggap kurang sopan, dan lain lainnya.

basically, wanita memiliki kecenderungan berfikir yang lebih rumit dibandingkan pria. Saya mengakuinya. Pria cenderung menggunakan 90% logikanya saat mengambil keputusan, sehingga aspek-aspek penentu keputusan pun tidak banyak. Sedangkan wanita memiliki dua hal yang pasti akan mempengaruhi keputusan yang diambil : Perasaan dan Logika. Perasaan membuat banyak pertimbangan pada pengambilan keputusan wanita. Misal : ada ibu dan bapak yang anaknya jatuh dari sepeda sehingga lutut sang anak terluka. Sang ayah dengan perasaan biasa saja akan mencuci lutut sang anak kemudian mengoleskan betadine. Sedangkan sang ibu akan panik, berpikir kalau dibasuh cepat-cepat nanti lukanya makin basah, kalau langsung diolesi Betadine nanti kesakitan, tapi kalau dibiarin nanti infeksi, lalu bagaimana dong ..hal seperti itu yang mengakibatkan banyak orang berpendapat bahwa kalau wanita bisa menekan perasaannya hingga rasio perasan : logika adalah 40:60 saja, dia sudah hebat sekali.

Tapi menurut saya memang harus begitu. Logika harus tetap digunakan dalam memutuskan sesuatu. Saat wanita-wanita lainnya hanya bisa bingung memikirkan masa depannya, wanita yang kuat dan berani akan take action untuk masa depannya.

Semua orang pasti akan mengalami kesulitan, cepat atau lambat. Bagaimana jika orang yang kesannya nyaman-nyaman aja walupun nyantai sebenernya hanyalah menunda-nunda waktu dan orang yang terkesan "banyak cobaan" adalah orang yang sigap dan mendapatakan banyak ujian untuk "kedudukannya" ? Who knows apa yang akan terjadi besok, yang bisa kita lakukan adalah menghadapi yang ada sekarang.

So, apa yang membedakan Ibu Kartini dengan wanita-wanita lainnya? Yang membedakan adalah Bu Kartini Kuat dan Berani memperjuangkan hidup orang lain dan hidupnya sendiri, yang mungkin orang lain hanya dapat merencanakan tapi belum dapat melaksanakan sepenuhnya.

So, hidup bahagia di sana, Bu Kartini terimakasih atas segala inspirasi yang diberikan


21042014

Thursday, February 13, 2014

Hidup itu Kejam, Kawan..

Beberapa orang pasti pernah mendengarkan kalimat ini. Entah siapa orang yg pertama kali mengucapkan, saking banyaknya yg bilang sampai terlupakan.
Well, ada beberapa hal yang membuatku ingin menulis mengenai kalimat ini. Kalimat yg bisa dianggap sebagai mood booster atau mood breaker. Semuanya tergantung kondisi dan situasi serta sensitifitas dari si pendengar.
Beberapa waktu yg lalu, aku sengaja streaming youtube. Menonton mata najwa tentang seorang pemimpin perempuan yang mampu menginspirasi. Pemimpin yg sederhana, langsung menanggulangi bukan hanya memikirkan suatu permasalahan, seorang pemimpin yg bertindak sebagai ibu dan teman- dan kadang- orang bahkan lupa bahwa dia adalah seorang pemimpin karena figurnya yg sangat low profile dan apa adanya. Ya langsung saja kita sebut, dia Bu Risma, walikota Surabaya saat ini.
Sebagai orang yg pernah menetap di sby kurang lebih 4 tahun, jujur, cukup pesimis rasanya memperbaiki surabaya. Karakter masyarakat yg keras, polusi dan suasana "panas" di mana-mana. Tapi bu Risma mampu memperbaiki satu per satu. Bukan yg muluk-muluk seperti janji para calon pemimpin yg memberikan mimpi indah : sekolah gratis, kemiskinan nol, kejahatan bakal hilang, hapus kelaparan, bla bla bla bla cas cis cus yukkk.
Bu Risma hanya fokus pada beberapa hal : berikan kesempatan yg sama pd si miskin, jangan sampai banjir, dan perbaiki taman. Udah ga usah banyak-banyak yg penting ada hasilnya.
Jadi menurutku sih, para calon calon pemimpin apapum ga usahlah buang buang uang beli spanduk, baliho, atau susah susah ngecat mobil buat kampanye. Suara hati rakyat memilih bukan hanya dari promosi. Kalau kata orang sih mata hati bisa melihat yg bahkan tidak dilihat mata.
Yahh..tapi balik lagi, HIDUP ITU KERAS. Jadi orang baik nyatanya tidak menjamin orang lain akan selalu mendukung. Masih banyak pihak yg mau menggusur Bu Risma dan -mungkin- merasa lebih pantas berada di posisinya.
Contoh sederhananya lagi dr situasi yg memerlukan kalimat tersebut juga pernah aku rasakan real.
Dulu, beberapa tahun yg lalu, aku berada di antara dua pihak. Berada di tengah tengah perkelahian penjual dan pembeli, dan apesnya, dua-duanya adalah temenku. Si pembeli marah-marah merasa ditipu penjual, menurutku bener juga sih pembeli berhak mendapatkan produk yg sesuai sama apa yg diinginkan. Si penjual merengek bertanya kok tega si pembeli berkata-kata kasar padahal mereka udah saling kenal. Yah, ga salah juga sih memang kadang bertingkah laku harus diatur terutama jika berhadapan dgn orang yg telah dikenal. Alhasil keputusan untuk memberikan kepada siapakah kalimat "HIDUP MEMANG KEJAM KAWAN" berada di tangan -gaya bener yak hehe-
Dan setelah dipikir-pikir sambil mempersiapkan "puk-puk hangat seorang sahabat" aku pun memilih pihak penjual untuk merasakan puk-pukan tersebut dan berkata bak pahlawan "HIDUP ITU MEMANG KEJAM SIS.."

Posted via Blogaway

Saturday, February 8, 2014

Yang Diperjuangkan Setengah Mati Pasti Lebih Bermakna (katanya..)

Lagi-lagi dapat quotes bagus dan lupa nama pembuatnya. Mohon maaf sedalam-dalamnya pada sang komposer hehe..
Setelah dipikir-pikir,bagus tidaknya quotes memang dipengaruhi dari dua hal : kebenaran atau sudah terujinya quotes dan juga kesesuaian quotea dgn keadaan si pembaca hehe..
Memang sudah hampir setahun sedang memperjuangkan sesuatu yang hanya bisa dibuktikan oleh waktu (tsaaah). Awal awalnya siang malam susah makan mikirin gimana akhirnya hehe lebay sih. Tapi lama kelamaan makin nothing to lose, kalau kata orang tua jaman dulu sih "Gusti Allah sing paling ngerti opo sing paling becik" (subtitle : Allah SWT yg paling tahu apa yang terbaik).
Bener juga sih. Sengotot-ngototnya, sebaik atau seburuk apa pun, kalau Allah bilang "iya" akhirnya pasti iya begitu juga sebaliknya. Jadi yg sekarang bisa dilakukan ya yg seperlunya dilakukan saja, sisanya serahkan kepada Allah yg Maha Menentukan. Amiin
Posting kali ini bener-bener menyentuh hati macam ceramah agama ya hehe..

Posted via Blogaway

Friday, February 7, 2014

Jakarta ohh Jakarta

Masih seputar merantau. Kayaknya penulis memang sedang dilanda kegalauan setara S3.
Kurang lebih setahun di jakarta, kota yg selama ini cuma bisa dilihat dari berita dan sinetron di TV. Konon di kota ini pagi sampai malam nggak pernah tidur, andaikan kota ini satpam bisa jadi dia satpam yg terlatih untuk bisa jaga 24jam nonstop kayak apotek.
Awal-awal di sini, waktu in class training, msih belum paham kenapa bisa Jakarta identik dengan kota yg nggak pernah tidur -maklum dulu portal kosan ditutup setelah jam 9 malam. Tapi begitu real terjun ke dunia kerja baru paham emang bener kayak gitu.
Ceritanya, sempet salah terlanjur milih "kosan yg sesat". Setiap hari kamar di depan kamar kosku mabuk-mabukan dan sekali mabuk yg datang bisa 8-9 orang. Setiap pagi lihat orang muntah-muntah -sori,tapi muntah tiap pagi itu bukan indikasi orang keren udah bisa mabuk-mabukan malam harinya tapi lebih mengindikasikan jorok!
Dan ada beberapa hal lagi tentang jakarta :
1. Kata yg paling mahal didengar di sini adalah kata MAAF dan TERIMA KASIH. Kalau nggak sengaja ketabrak orang waktu jalan kaki trus mau dimintain maaf, sebaiknya jangan terlalu berharap daripada ujung-ujungnya darah tinggi atau bahkan komplikasi. Trus jgn terlalu berharap juga akan ada ucapan terima kasih dari shop keeper setelah Anda belanja -apalagi yg cuma masuk toko buat windows shoping hehe.. Di sini kalau kangen ucapan terimakasih telepon aja ke layanan operator provider ponsel biar dikasih.
2. Penampilan dan penampilan. Setiap pagi sebagai orang kantoran yg penuh perjuangan -lebai kali- aku harus menempuh 1,2 KM perjalanan ke kantor dengan jalan kaki atau bahasa jepangny adalah mlaku karo sikilmu dewe. Dan rute ke kantor mesti ngelewatin gang, shelter busway, dan lainnya. Dan aneh bin ajaibnya, setiap orang yg kujumpai yg rata-rata adalah penumpang transjakarta semuanya berpenampilan menarik. Cewek-cewek dgn pakaian formal mini, dress yg juga mini, cowok cowok pakai dasi yg bau parfumnya bikin inget sama susanna, semua begitu memperhatikan penampilan! Belum lagi orang-orang di kantor dengan blazer cantik, rambut seindah cewek iklan shampo, body aduhai, dan kulit mulus. Ya beneran, di sini perasaan semua cewek mulus. Mau keluar dari angkot atau kopaja tetep aja yg paling menarik adalah kulit mereka yg putih bersih menawan -asiik. Kadang sampai mikir juga itu orang-orang jangan-jangan pada punya salon sendiri atau gimana.
3. Macet dan Banjir Masalah Semua Orang yg Masih Bisa Napas. Yap..dan sempet kepikiran siapapun orang yg bisa mengatasi ini dan terbukti emang bener-bener bisa mengatasi dua masalah ini, walaupun aku bukan orang Jakarta, bakalan ikutan nyoblos dah buat milih mereka! Kedua hal ini yang sukses bikin jakarta lumpuh. Orang harus mengorbankan waktu ketemu keluarganya untuk berangkat lebih pagi karena takut macet. Orang harus punya dana simpanan kalau musim ujan buat evakuasi kalau banjir.
Yah itu tadi yg negatif negatifnya dari ibu kota. Dan menurutku semua terjadi besar kecil disebabkan sama ketidakpedulian masyarakat juga sih. Rasa tanggung jawab, kepedulian, kesabaran, rasanya memang langka di sini. Siapapun gubernurnya, kalau masyarakatnya cuma bisa mengkritik dan nggak ikutan membangun ya sama saja.
Oh iya ada juga sih hal positif di sini hehe. Buat orang-orang yg sepanjang hidupnya bermimpi bisa ketemu artis ibu kota di sini possibility nya lebih besar -but actually i dont really care about it hehe- Trus hebatnya lagi adalah sebagian besar orang di sini telah memanfaatkan transportasi umum. Ga perduli bos atau bawahan semua memanfaatkan transportasi umum.
Jadi yg berharap aman bisa ngatain bos nya di kopaja atiati ya, bisa jadi bis Anda adalah orang yg duduk di belakang bangku Anda hehe.

Posted via Blogaway

"Merantaulah, maka kau akan tahu betapa istimewanya kembali ke rumah.."

Yaaap..sudah setahun ternyata merantau di kota besar. Kota yg dipengenin semua orang untuk mencari nafkah -unfortunately aku sebenernya ga pernah kepikiran mau bekerja di sini hehe..
Btw quotes yg sori banget lupa siapa penciptanya ini memang 50000% benar. Dulu SMA waktu cuma di rumah seharian bingung mau ke mana y, sama siapa ya, pake duit siapa ya. Sekarang? Bisa pulang ke rumah ketemu keluarga nonton tv bareng aja rasanya udah kayak dikasih 3 Toyota Alphard!
Bayangkan saja, sebagai perantau junior - bukan sister groupnya coboy junior loh- paling banter 2 bulan sekali baru bisa pulang. Sekali pulang biasanya 2-4 hari. Dan untuk 2-4 hari itu, ongkos pesawat bla bla bla nya baru bisa lunas 3 bulan! -jujur amat yak-
Dan sebagai perantau, jadi amat sangat menyadari bahwa yang paling bisa menerima kita apa adanya adalah KELUARGA dan yang paling paling pengertian adalah Orang Tua kita!
Emotional moment sebagai perantau. Kalau aku yg paling bikin sensitif adalah saat weekend. Kalau di rumah weekend bersama keluarga bisa, pacar bisa, temen bisa. Kalau di kota perantauan? 80% weekend diisi dengan bertapa di kosan, menjadi inem pelayan kepret, jalan jalan macam orang kehilangan arah, dan apa pun itu sebagian besar dilakukan sendirian.
Jadi buat semua orang yang saat ini bisa bekerja sekaligus berkumpul dengan keluarga dan orang orang yg dicintai, bersyukurlah. Bersyukur karena Anda tidak perlu merasakan hari-hari penuh "pertapaan" seorang diri. Bersyukur karena tidak perlu mengangsur biaya transport untuk pulang kembali ke tempat yg menjadi asal muasal Anda. Bersyukur karena hari hari "nganggur" di rumah Anda masih ditemani oleh orang yg memikirkan Anda.
Dan buat para perantau-kawan senasib- mari kita berjuang, konon orang akan benar benar terasah mental dan fisiknya saat berada di "uncomfort zone" ( jangan dicari ini quotes dari siapa karena ini adalah subyektifitas yg berasal dr survey sangat tidak resmi penulis hehe..).
Mari kita semua berjuang, berdoa, dan bersih-bersih kosan lagi karena ini sudah weekend.

Posted via Blogaway